Senin, 28 November 2011 Bila Banyak Pesanan, Sehari Bisa Kumpulkan Uang Rp100 ribu Melihat Aktivitas Penambang Batu Gunung Tradisional Pernahkah Anda membayangkan ada pekerjaan yang selalu “berteman” maut. Salah satunya mungkin pekerjaan menambang batu yang dilakoni sebagian warga Desa Awang Bangkal Barat.ZALYAN SHODIQIN ABDI, MartapuraSenin, (28/11), sepasang suami istri asyik memukul-mukul batu gunung. Eko, 55, dan Irus, 40 merupakan salah satu keluarga di Desa Awang Bangkal Barat, Karang Intan, Kabupataen Banjar yang bekerja sebagai pengambil batu di gunung. Desa Awang Bangkal Barat sendiri berjarak kurang lebih 15 Km dari Banjarbaru. Geografinya memang mempunyai banyak perbukitan.Dengan menggunakan palu dan linggis, Eko juga Irus seharian memecah batu-batu besar menjadi serpihan kecil untuk dijual. Satu kubik batu biasa mereka jual dengan harga Rp50 ribu. Kalau pesanan untuk batu, baik untuk membuat jalan maupun pondasi perumahan sedang ramai, mereka bisa mengumpulkan Rp100 ribu dalam sehari.Penghasilan mereka sehari, tentu tidak terlalu memadai untuk memenuhi kehidupan. Apalagi ketika harga barang dagangan melambung tinggi. Belum lagi saat musim penghujan tiba. Mungkin bukan uang yang mereka peroleh tapi bisa jadi nyawa mereka justru jadi taruhan manakala bebatuan di atas gunung longsor.Yadi, 25, salah satu pengambil batu menuturkan bahwa selama kurun waktu 20 tahun sedikitnya ada 5 orang meninggal akibat dijatuhi bebatuan. Cerita Yadi sepertinya sangat beralasan. Terlebih ketika mengamati kondisi gunung yang curam dan gersang. Kala penulis mencoba naik keatas untuk mengambil gambar dari ketinggian, dengan mudahnya kaki tergelincir akibat rapuhnya bebatuan.Di sudut lain, akibat pengambilan bebatuan gunung itu, beberapa sisi gunung terlihat rompal. Bahkan ada sebuah gunung seolah-olah sebuah kue coklat yang di belah sebagian. Itu baru akibat dari kerjaan tangan manusia saja, belum lagi di sekitar situ juga banyak aktifitas-aktifitas pertambangan yang membelah gunung dengan bantuan mesin.Setiap hari mereka bekerja seperti itu. Ditanya alasan memilih pekerjaan itu, maka Irus bercerita bahwasanya keluarga mereka tidak mempunyai lahan kosong untuk bercocok tanam seperti kebanyakan warga desa lainnya. “Kaini, pang, amun kada baisi pahumaan (seperti ini, lah, kalau tidak punya lahan, Red),” ujarnya miris. (*/ij/ram) Riyan Jumat, 28 Oktober 2011 20:23:1 Yth :DPRD Komisi IV Bidang pendidikan Banjarmasin....Tolongi am Nasib Guru-Guru Sangat Terpencil yang… fatur Jumat, 21 Oktober 2011 10:14:5 maraknya truck batubara menggunakan jln propinsi di wilayah tanah bumbu dan pelaihari tetapi aparat… agus Rabu, 28 September 2011 21:36: Seandainya saja Pemerintah daerah atupun pusat atau pun LSM bisa membantu pembebasan lahan milik TNI-AD… ayu p larasati Jumat, 23 September 2011 18:28 banjarbaru semakin sesak berantakan.. macet.. terlalu banyak u-turn nya, jaraknya deket lagi..blm lagi… www.punyaunda.com Kamis, 22 September 2011 19:22 link E-paper Radar banjar udah ulun pasang di blog urang banjar tempat download lagu banjar kalimantan… ali Selasa, 20 September 2011 16:3 tolong sampaikan ....kami kecewa sebagai panitia FASI 2011 dipelaihari Belum dapat uang jerih payah… Gatot Selasa, 20 September 2011 08:5 ANDAIKATA SUNGAI SUNGAI DI KALIMANTAN MENJADI SUNGAI YANG AMAN & NYAMAN untuk TRANSPORTASI AIR, MAKA… yasir Jumat, 16 September 2011 13:05 alhamdulillah telah di lanjut kan nya pengerjaan median jalan di km30 mudah mudahan tidak terjadi lagi… iqbal Rabu, 7 September 2011 20:42:5 please sahabat radar,,,tolong terbitkan berita tentang seputar bisnis sampingan di jawa,,,,yang unik2… mansyah Senin, 22 Agustus 2011 14:03:0 saya jd bingung dgn kades saya dibanyuirang bati2 tidak ada pertanggungjawapan ADD ATAU rapat di bpd…




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.