Rabu, 30 November 2011 Calo Darah Dianggap Lumrah Dinkes Tak Bisa Melarang BANJARMASIN - Bisnis di bidang kesehatan ternyata tak hanya merambah pada bisnis obat dan alat kesehatan saja. Belakangan jual beli darah pun bisa ditemui. Calo darah pun berkeliaran di rumah sakit, sasarannya adalah keluarga pasien yang membutuhkan darah dalam waktu segera. Sementara pada saat yang sama, tidak tersedia stok darah di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI). Meskipun pelaku (calo darah, Red) menolak jika praktik tersebut dikatakan sebagai jual beli.Seperti diungkap seorang petugas keamanan di salah satu rumah sakit di Kota Banjarmasin kepada Radar Banjarmasin pekan tadi. “Memang sewaktu-waktu ada warga yang minta carikan darah, jika di PMI (Palang Merah Indonesia) cabang Banjarmasin darah sedang kosong,” katanya.Sumber Radar Banjarmasin ini mengaku, ia dan teman-temannya siap untuk mencarikan darah golongan apapun, kapan saja diperlukan. “Suatu kebanggaan apabila darah saya bisa menyelamatkan nyawa seseorang,” ujarnya.Setiap kali mendonorkan sekantong darah, sumber Radar Banjarmasin ini mengaku jika mereka mendapat imbalan berupa uang. "Tapi kami tidak mematok harga, hanya minta uang untuk membeli telor dan makan untuk memulihkan stamina. Kami minta sukarela saja, rata-rata sato kantong biasanya diberi Rp250 ribu sih,” terangnya.Itu artinya, bagi pasien yang mendapatkan darah melalui jalur ini, harus merogoh koceknya Rp500 ribu, untuk sekantong darah.Pasalnya menurut Dokter Budi, salah satu staf Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Banjarmasin, biaya resmi untuk satu kantong darah di PMI cabang Banjarmasin adalah sebesar Rp250 ribu. "Biaya itu adalah biaya pengganti pemeliharaan darah saja,” terangnya.Soal oknum yang menjual jasa untuk donor darah, saat persediaan darah di PMI cabang Banjarmasin sedang kosong, dokter Budi tidak menampiknya."Solusinya, masyarakat harus lebih aktif mendonorkan darah di PMI, supaya persediaan darah selalu ada," ujarnya.Soal praktik "jual beli" darah ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani kepada Radar Banjarmasin juga mengakuinya.“Memang ada saja calo-calo darah, biasanya mereka berada tak jauh dari IGD atau unit donor darah. Mereka selalu siap setiap saat ada orang yang memerlukan golongan darah tertentu biasanya yang cukup langka seperti golongan darah AB,” ungkapnya, kemarin.Konsekuensinya, masyarakat atau keluarga pasien, selain harus membayar Rp250 ribu untuk biaya penggantian pengolahan darah (BPPD), juga harus membayar jasa calo yang menyediakan darah.“Berapa persisnya saya tidak terlalu tahu, biasanya itu kesepakatan antara calo darah dengan keluarga pasien, yang jelas biayanya lebih besar dibandingkan mendapatkan darah secara resmi dari unit transfusi darah,” cetus Rosihan.Mantan kepala dinas kesehatan kabupaten Banjar ini mengakui bahwa praktik yang melibatkan calo darah sulit untuk dihilangkan. Selain tak ada aturan yang melarang, calo darah juga dapat bersifat membantu keluarga pasien.Sebenarnya, sesuai dengan UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan bahwa darah tidak boleh diperjualbelikan. Hal tersebut juga dibenarkan Rosihan, namun di sisi lainnya peran calo darah sangat membantu kelangsungan hidup masyarakat yang membutuhkan darah dengan golongan darah tertentu.“Kami tidak bisa melarang karena calo darah ini, sebenarnya juga baik karena mereka menolong orang. Kalau darah memang tidak boleh diperjualbelikan makanya dalam aturan disebutkan bahwa Rp250 ribu itu bukan untuk membeli daerah tapi mengganti biaya pengolahan darah dan operasional tenaga di unit donor darah,” terangnya.Siapa sebenarnya calo darah ini, Rosihan diam-diam melakukan pengamatan. Menurut Rosihan rata-rata calo darah adalah pria berusia dewasa. Stok donor mereka adalah tukang ojek atau tukang becak yang biasa mangkal tak jauh dari rumah sakit maupun UDD.Untuk memerangi praktik ini, menurut Rosihan pihaknya giat melakukan kampanye donor darah. Diantaranya dengan menggunakan mobil donor darah. Mobil ini juga dilengkapi fasilitas untuk donor darah sehingga dimanapun masyarakat yang melihat bisa langsung mendonorkan darahnya,” tandas Rosihan. (tas/mr-118/yn/bin) Riyan Jumat, 28 Oktober 2011 20:23:1 Yth :DPRD Komisi IV Bidang pendidikan Banjarmasin....Tolongi am Nasib Guru-Guru Sangat Terpencil yang… fatur Jumat, 21 Oktober 2011 10:14:5 maraknya truck batubara menggunakan jln propinsi di wilayah tanah bumbu dan pelaihari tetapi aparat… agus Rabu, 28 September 2011 21:36: Seandainya saja Pemerintah daerah atupun pusat atau pun LSM bisa membantu pembebasan lahan milik TNI-AD… ayu p larasati Jumat, 23 September 2011 18:28 banjarbaru semakin sesak berantakan.. macet.. terlalu banyak u-turn nya, jaraknya deket lagi..blm lagi… www.punyaunda.com Kamis, 22 September 2011 19:22 link E-paper Radar banjar udah ulun pasang di blog urang banjar tempat download lagu banjar kalimantan… ali Selasa, 20 September 2011 16:3 tolong sampaikan ....kami kecewa sebagai panitia FASI 2011 dipelaihari Belum dapat uang jerih payah… Gatot Selasa, 20 September 2011 08:5 ANDAIKATA SUNGAI SUNGAI DI KALIMANTAN MENJADI SUNGAI YANG AMAN & NYAMAN untuk TRANSPORTASI AIR, MAKA… yasir Jumat, 16 September 2011 13:05 alhamdulillah telah di lanjut kan nya pengerjaan median jalan di km30 mudah mudahan tidak terjadi lagi… iqbal Rabu, 7 September 2011 20:42:5 please sahabat radar,,,tolong terbitkan berita tentang seputar bisnis sampingan di jawa,,,,yang unik2… mansyah Senin, 22 Agustus 2011 14:03:0 saya jd bingung dgn kades saya dibanyuirang bati2 tidak ada pertanggungjawapan ADD ATAU rapat di bpd…




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.