Selasa, 29 November 2011 Habiskan Satu Borong Tanah dalam Enam Bulan Hudah Hidupi Keluarganya dari Membuat Batu Bata Hudah, ditemani anak dan sepupunya tampak riang mengolah tanah liat menjadi tumpukkan bata. Tangannya legam, senada dengan warna tanah yang siap diolahnya menjadi salah satu material utama pembuat bangunan. Zalyan Shodiqin Abdi, MartapuraSIANG itu, Selasa (29/11), Hudah, 28, seperti hari-hari yang lain sibuk mengolah berkarung-karung tanah liat menjadi bata. “Mau kada mau, ulun harus begawi ini karena kadida beisi lahan,” ujarnya.Ditemani anaknya, Nur, 4, dan sepupunya Bulkis, 35, dia bertutur bahwa pekerjaan itu sudah dilakoni keluarganya sejak dulu. Dalam sehari mereka biasa membuat sekitar 500 bata, dan apabila itu dijual maka harganya kurang lebih Rp150 ribu. Namun bata yang dibuat hari ini tidak bisa langsung dijual karena harus dikeringkan dulu selama kurang lebih 2 minggu lamanya.Kala musim hujan tiba biasanya daerah pembuatan bata mereka yang berada dipinggir sungai ikut terendam. Disanalah cerita kerugian terjadi. Belum lagi jika angin deras merubuhkan tempat mereka mengolah bata. Kalau sudah begitu, kerugian mereka bisa mencapai sekitar Rp2 juta.Untuk membuat bata mereka mengambil tanah dengan menggunakan perahu kecil bermesin ke desa Pejambuan. Di desa tersebut terdapat sungai yang agak luas. Nah, di bantaran sungai itu mereka mengambil tanah setelah sebelumnya membeli dengan pemilik tanah. Satu borongan tanah dihargai sekitar Rp3 juta. Mereka biasa menghabiskan 1 borongan tanah tersebut selama 6 bulan.Ketika ditanya apakah mereka tidak malu dengan pekerjaan itu, Hudah hanya tersebut. Dia mengatakan rasa malu sedikitpun tidak ada dalam hatinya. Justru dia malu kalau wartawan menjepretkkan kamera ke wajahnya. “Ulun supan mun difoto,” ujarnya.Bekerja sebagai pembuat bata, tentu bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi, secara status sosial pekerjaan itu bisa dianggap sebagai pekerjaan kelas bawah. Namun hidup terus berjalan. Dan bagaimanapun Hudah dan juga pembuat bata lainnya merupakan satu sisi dari kehidupan perekonomian desa di Kabupaten Banjar. (*/ij/ram) Riyan Jumat, 28 Oktober 2011 20:23:1 Yth :DPRD Komisi IV Bidang pendidikan Banjarmasin....Tolongi am Nasib Guru-Guru Sangat Terpencil yang… fatur Jumat, 21 Oktober 2011 10:14:5 maraknya truck batubara menggunakan jln propinsi di wilayah tanah bumbu dan pelaihari tetapi aparat… agus Rabu, 28 September 2011 21:36: Seandainya saja Pemerintah daerah atupun pusat atau pun LSM bisa membantu pembebasan lahan milik TNI-AD… ayu p larasati Jumat, 23 September 2011 18:28 banjarbaru semakin sesak berantakan.. macet.. terlalu banyak u-turn nya, jaraknya deket lagi..blm lagi… www.punyaunda.com Kamis, 22 September 2011 19:22 link E-paper Radar banjar udah ulun pasang di blog urang banjar tempat download lagu banjar kalimantan… ali Selasa, 20 September 2011 16:3 tolong sampaikan ....kami kecewa sebagai panitia FASI 2011 dipelaihari Belum dapat uang jerih payah… Gatot Selasa, 20 September 2011 08:5 ANDAIKATA SUNGAI SUNGAI DI KALIMANTAN MENJADI SUNGAI YANG AMAN & NYAMAN untuk TRANSPORTASI AIR, MAKA… yasir Jumat, 16 September 2011 13:05 alhamdulillah telah di lanjut kan nya pengerjaan median jalan di km30 mudah mudahan tidak terjadi lagi… iqbal Rabu, 7 September 2011 20:42:5 please sahabat radar,,,tolong terbitkan berita tentang seputar bisnis sampingan di jawa,,,,yang unik2… mansyah Senin, 22 Agustus 2011 14:03:0 saya jd bingung dgn kades saya dibanyuirang bati2 tidak ada pertanggungjawapan ADD ATAU rapat di bpd…




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.