Selasa, 13 Desember 2011 Melaut Sejak Kecil, Dane pun Buta Aksara Luasnya Wilayah di Kabupaten Kotabaru ternyata juga berdampak pada masih besarnya angka buta huruf, penyandang buta aksara ini tersebar di beberapa kecamatan. Terungkapnya jumlah warga yang masih tidak bisa membaca ini setelah Badan Pusat Statistik melakukan sensus penduduk beberapa waktu lalu.Data dari hasil sensus penduduk tahun 2010 lalu, diketahui warga yang masih buta huruf jumlahnya sekitar 13.883 orang atau berkisar 7,04 persen dari jumlah penduduk Kotabaru.Secara umum, warga yang masih mengalami buta huruf adalah warga yang tinggalnya di kawasan pedalaman dan di kawasan pesisir.Diantaranya daerah yang menjadi kantong-kantong buta huruf tersebut sebagian besarnya adalah berada di Ibukota Kabupaten Kotabaru, Pulau Laut Utara, mencapai 1.644 orang atau sekitar tiga persen dari jumlah penduduknya.Begitu juga dengan Kecamatan Pulau Laut Barat warga yang masih buta huruf berjumlah 1.124 orang atau sekitar 9,54 persen dari jumlah penduduknya. Kecamatan Hampang sebanyak 1.207 orang atau sekitar 17,74 persen dari jumlah penduduknya.Dari 20 kecamatan di Kotabaru, kecamatan yang terendah angka buta hurufnya adalah kecamatan Kelumpang Tengah hanya sebanyak 188 orang warganya yang masih menderita buta huruf dari 8,6 ribu jiwa jumlah penduduk kecamatan tersebut.Sementara, untuk kelompok umur penderita buta huruf adalah orang tua yang berusia diatas 45 tahun, sementara itu untuk kelompok umur sekolah tidak terlalu banyak.Kepala Dinas Pendidikan Kotabaru Eko Suryadi WS, mengungkapkan warga yang masih mengalami buta huruf adalah warga yang tinggal di kawasan pedalaman.“Memang kita mengetahui tersebut datanya adalah dari hasil sensus penduduk BPS Kotabaru,” katanya.Salahsatu faktor yang menjadi penyebab tingginya angka buta huruf adalah faktor budaya, masih banyak warga yang tidak terlalu peduli dengan pendidikan, begitu juga dengan faktor ekonomi. Dengan anggapan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi yang penting bisa mencari uang, sehingga warga tidak menyekolahkan anaknya dan langsung di bawa untuk mencari nafkah.Seperti diungkapkan Dane, salah satu warga desa Rampa, yang tidak bisa baca tulis. Ia mengatakan, saat kecil dirinya tidak bersekolah dan diajak orang tuanya mencari ikan di laut.“Yang penting bisa cari uang dan tidak bisa baca tidak apa-apa juga,” ungkapnya mengenang ceritanya dulu.Warga yang tinggal di kawasan pesisir inilah juga sebagai salah satu kantong-kantong buta huruf di Kotabaru. Karena budaya mereka yang hidupnya akrab dengan laut ini sehingga melupakan pentingnya pendidikan. Keseharian warga yang berprofesi nelayan tersebut setiap pagi berangkat ke laut dan sore hari baru pulang mencari ikan. Rutinitas tersebut diturunkan kepada anak cucunya, sehingga bangku pendidikan dianggap tidak terlalu penting. Untuk memberantas buta aksara, Dinas Pendidikan Kotabaru sudah melakukan beberapa langkah strategis seperti dengan memperbanyak taman bacaan masyarakat (TBM) pada kantong-kantor buta huruf.Secara terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Slamet Riyadi menjelaskan, Selain TBM, dinas juga memperbanyak kelompok belajar atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di daerah kepulauan dan pesisir. “Terutama untuk daerah yang menjadi kantong-kantong buta aksara,” jelasnya.Kotabaru sudah memiliki sedikitnya 25 unit PKPBM yang tersebar di daerah kecamatan. PKBM dan TBM masing-masing menyelenggarakan kegiatan pembelajaran bagi warga yang belum bisa baca tulis, serta menyelenggarakan ujian penyetaraan paket A, B dan C. Tidak hanya itu saja, Disdik juga memberikan bantuan buku keagamaan, buku cerita dan bacaan-bacaan aspiratif sesuai dengan kondisi daerah kecamatan masing-masing.Masalah yang tidak boleh dilupakan adalah setelah bisa membaca, bekas penyandang buta aksara yang berusia 45 tahun ke atas kadang memiliki sifat malas dan malu. Sehingga beberapa waktu kemudian mereka kembali lupa apa yang sudah dipelajarinya.(ins/yn/bin) Riyan Jumat, 28 Oktober 2011 20:23:1 Yth :DPRD Komisi IV Bidang pendidikan Banjarmasin....Tolongi am Nasib Guru-Guru Sangat Terpencil yang… fatur Jumat, 21 Oktober 2011 10:14:5 maraknya truck batubara menggunakan jln propinsi di wilayah tanah bumbu dan pelaihari tetapi aparat… agus Rabu, 28 September 2011 21:36: Seandainya saja Pemerintah daerah atupun pusat atau pun LSM bisa membantu pembebasan lahan milik TNI-AD… ayu p larasati Jumat, 23 September 2011 18:28 banjarbaru semakin sesak berantakan.. macet.. terlalu banyak u-turn nya, jaraknya deket lagi..blm lagi… www.punyaunda.com Kamis, 22 September 2011 19:22 link E-paper Radar banjar udah ulun pasang di blog urang banjar tempat download lagu banjar kalimantan… ali Selasa, 20 September 2011 16:3 tolong sampaikan ....kami kecewa sebagai panitia FASI 2011 dipelaihari Belum dapat uang jerih payah… Gatot Selasa, 20 September 2011 08:5 ANDAIKATA SUNGAI SUNGAI DI KALIMANTAN MENJADI SUNGAI YANG AMAN & NYAMAN untuk TRANSPORTASI AIR, MAKA… yasir Jumat, 16 September 2011 13:05 alhamdulillah telah di lanjut kan nya pengerjaan median jalan di km30 mudah mudahan tidak terjadi lagi… iqbal Rabu, 7 September 2011 20:42:5 please sahabat radar,,,tolong terbitkan berita tentang seputar bisnis sampingan di jawa,,,,yang unik2… mansyah Senin, 22 Agustus 2011 14:03:0 saya jd bingung dgn kades saya dibanyuirang bati2 tidak ada pertanggungjawapan ADD ATAU rapat di bpd…




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.