Pak Penguk biasa dipanggil. Kemarin saat Radar Banjarmasin datang di rumahnya sudah bersiap mau berangkat salat Jumat ke Masjid yang tak jauh dari rumahnya. Ia tampak kaget, saat wartawan Koran ini menyampaikan maksud kedatangan. Namun pak Penguk memberikan waktu untuk wawancara. SUROTO, Banjarbaru Siang yang cukup terik, tetapi beberapa pohon rindang tumbuh di sekitar rumah pak Penguk memberikan suasana sejuk. Apalagi kalau angin semilir menerpa, daerah samping Museum Lambung Mangkurat dimana pak Penguk sering berjulan nasi goreng itu cukup memberikan suasana nyaman. Jauh menerawang, serasa ada yang diingat untuk diceritakan. Bermula dari sekitar tahun 1980-an ia memulai berjualan nasi goreng. Ia mengisahkan dulu masih cukup sepi orang lewat, tetapi ia memilih jualan di tempat itu karena yakin akan ramai. Setelah beberpa tahun berjalan, kata lelaki yang sudah berumur sekitar 48 tahun itu, ia mempunyai beberapa pelanggan. “Saya cukup lama mempunyai pelanggan tetap, dulu pelanggan saya hanya warga sekitar. Tetapi kini ada pelanggan dari Banjarmasin bahkan Pelaihari. Walikota Banjarbaru juga salah satu pelanggan tetap saya, beliau kalau makan ke sini sama anaknya, terkadang sama sopirnya,” terangnya. Ada hal yang mengejutkan, ternyata nasi goreng pak Penguk saat ini mempunyai pelanggan lebih dari 250 orang yang selalu membeli. Karena banyak pelanggannya ia mengembangkan bisnisnya tidak hanya nasi goreng, ada mie kuah dan juga menu lain. “Saya julan tidak mahal, satu porsi rata-rata Rp9 ribu sampai Rp12 ribu. Satu malam kalau dihitung semuanya ya kisaran 200 sampai 320 porsi,” katanya. Soal sejarah membuka warung ia bertutur kalau sejak meninggalkan kampung di Jawa memang mau usaha mandiri. “Sekarang banyak kawan yang juga merantau ke sini karena saya cerita kalau di sini masih enak mencari rejeki,” ucapnya seraya mengatakan buka mulai pukul 17.00 wita sampai pukul 23.00 wita. Suara di seberang sudah berganti dengan pengumuman dana infak, artinya sebentar lagi ceramah salat Jumat akan segera dimulai. Pak Pengok terpaka harus segera menuju masjid, dengan rasa hormat ia meminta maaf kepda wartawan koran ini. Langkahnya terlihat pasti, dengan mengenakan sarung motif kotak-kotak dengan baju koko warna coklat pak Penguk menuju masjid. Wartawan Koran ini masih memandang lelaki yang selalu terlihat sederhana dan melayani pelanggannya dengan bercanda. Ia juga sempat mengisahkan kalau pernah ada orang makan terus pulangnya tidak mau bayar, tetapi kejadian itu sudah cukup lama.(yn/abj)




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.