Jumat, 9 Desember 2011 Nasib Anak Putus Sekolah Jam baru menunjukkan pukul 07.00. Ridhaul sudah bersiap meninggalkan rumahnya yang terletak di salah satu gang sempit di Komplek Cempaka Putih Banjarmasin. Dengan berjalan kaki, ia menuju sebuah sekolah negeri di bilangan Jl A Yani.NAZAT FITRIAH, Banjarmasin Sebenarnya, Ridhaul sudah lulus dari sekolah menengah pertama tersebut pada tahun 2011 ini tadi. Namun, karena tak ada biaya, ia tak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, setiap hari ia masih setia datang ke almamaternya itu. Bukan untuk belajar, tapi menunggu kalau-kalau ada pekerjaan yang bisa dilakukannya di sekolah. “Dulu sempat ikut kerja memasang keramik di sini, upahnya Rp 40 ribu perhari. Satpam di sini yang sering mengajak saya ikut kerja,” ujarnya. Sambil menunggu, ia biasa duduk-duduk di pos satpam. Terkadang, ia bisa betah berada di sana hingga sore, bahkan sampai malam. Selain untuk mencari uang, hal itu juga dilakukannya untuk menghibur diri. Di rumahnya yang lebih menyerupai gubuk itu tak ada apa-apa, termasuk televisi. Ridhaul sendiri hanya tinggal dengan ayahnya yang sudah lanjut usia dan setiap hari juga luntang-lantung mencari pekerjaan serabutan. Ibunya sudah meninggal. Sedangkan kakak-kakanya sudah menikah. “Sunyi di rumah, tidak ada TV. Jadi, setiap hari ke sekolah menunggu proyek datang,” selorohnya. Sudah dua kali ini Ridhaul putus sekolah. Sebelumnya, ia sempat bersekolah di sebuah SMP swasta sampai kelas satu. Karena masalah ekonomi, ia pun terpaksa berhenti. Setelah sempat putus sekolah selama sekitar empat tahun, berkat bantuan tetangganya yang seorang guru, ia bisa kembali sekolah hingga akhirnya lulus saat usianya sudah memasuki 19 tahun. Namun, untuk kedua kalinya pendidikannya tertahan karena tak ada biaya untuk masuk SMA. Ia pun patah semangat. Sebenarnya, sang tetangga sempat berusaha membantu mencarikan beasiswa untuk anak putus sekolah. “Tapi katanya bantuannya habis,” ucapnya. Meski sudah merasakan enaknya mencari uang sendiri, Ridhaul tetap berharap dapat meneruskan sekolah minimal hingga SMA. Jika tak bisa masuk sekolah formal, ia berencana untuk mengikuti program kejar paket. “Saya ingin mendapat pekerjaan yang baik nantinya. Tidak enak jadi tukang, kalau pekerjaannya selesai harus cari kerjaan baru lagi,” katanya. Kisah tentang Ridhaul ini barangkali hanyalah satu di antara nasib miris yang dialami oleh anak-anak banua lainnya yang karena faktor ekonomi terpaksa putus sekolah. Pada tahun ajaran 2010/2011, data Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin menyebutkan bahwa ada 522 anak putus sekolah dari berbagai jenjang, terbanyak lulusan SMP sederajat yang akan menyambung ke SMA. Lantas, bagaimana perhatian Pemerintah Kota Banjarmasin terhadap penanganan anak-anak putus sekolah ini? (bersambung) Riyan Jumat, 28 Oktober 2011 20:23:1 Yth :DPRD Komisi IV Bidang pendidikan Banjarmasin....Tolongi am Nasib Guru-Guru Sangat Terpencil yang… fatur Jumat, 21 Oktober 2011 10:14:5 maraknya truck batubara menggunakan jln propinsi di wilayah tanah bumbu dan pelaihari tetapi aparat… agus Rabu, 28 September 2011 21:36: Seandainya saja Pemerintah daerah atupun pusat atau pun LSM bisa membantu pembebasan lahan milik TNI-AD… ayu p larasati Jumat, 23 September 2011 18:28 banjarbaru semakin sesak berantakan.. macet.. terlalu banyak u-turn nya, jaraknya deket lagi..blm lagi… www.punyaunda.com Kamis, 22 September 2011 19:22 link E-paper Radar banjar udah ulun pasang di blog urang banjar tempat download lagu banjar kalimantan… ali Selasa, 20 September 2011 16:3 tolong sampaikan ....kami kecewa sebagai panitia FASI 2011 dipelaihari Belum dapat uang jerih payah… Gatot Selasa, 20 September 2011 08:5 ANDAIKATA SUNGAI SUNGAI DI KALIMANTAN MENJADI SUNGAI YANG AMAN & NYAMAN untuk TRANSPORTASI AIR, MAKA… yasir Jumat, 16 September 2011 13:05 alhamdulillah telah di lanjut kan nya pengerjaan median jalan di km30 mudah mudahan tidak terjadi lagi… iqbal Rabu, 7 September 2011 20:42:5 please sahabat radar,,,tolong terbitkan berita tentang seputar bisnis sampingan di jawa,,,,yang unik2… mansyah Senin, 22 Agustus 2011 14:03:0 saya jd bingung dgn kades saya dibanyuirang bati2 tidak ada pertanggungjawapan ADD ATAU rapat di bpd…




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.