Senin, 28 November 2011 Rugi Rp154 Milir Setahun Karena Masalah Sanitasi Buruk BANJARMASIN – Kota Banjarmasin nampaknya tak bisa berkontribusi banyak untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium atau Millenium Development Goals (MDGs) yang jatuh tempo pada tahun 2015 mendatang. Dalam mewujudkan kelestarian lingkungan misalnya, Banjarmasin masih kesulitan mencapai target pengurangan setengah dari proporsi masyarakat yang belum memiliki akses terhadap sanitasi dasar. Upaya ke arah sana setidaknya dihadang tiga persoalan besar, yakni sampah, limbah, dan drainase yang buruk. Diperkirakan baru sekitar 40 persen warga kota ini yang bisa mendapatkan pelayanan sanitasi yang baik. “Waktu dicanangkan tahun 2006, katakanlah kalau yang kita jalankan selama ini 40 persen sudah dapat terlayani, sisanya masih 60 persen. Nah, minimal 30 persennya harus bisa diselesaikan. Tapi kalau melihat posisi sekarang, memang agak pesimis, mungkin tidak akan tercapai,” ujar Direktur Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD PAL) Kota Banjarmasin Muhidin. Padahal, lanjutnya, kerugian yang ditimbulkan akibat sanitasi yang buruk jika dinominalkan mencapai Rp 56 triliun rupiah setiap tahunnya secara nasional atau Rp154 milia per tahun untuk skala Banjarmasin saja. “Kerugian itu karena penyakit akibat sanitasi buruk yang berdampak pada produktivitas kerja. Orang banyak tidak sadar bahwa kalau ada satu orang saja dalam keluarga yang sakit, maka akan menyita waktu seluruh anggota keluarga. Apalagi kalau yang sakit anak kecil,” jelasnya. Karena itu, dibentuklah Pokja Sanitasi dan Tim Percepatan Pembangunan Sanitasi yang tugasnya fokus pada penyediaan sanitasi yang baik bagi masyarakat. Salah satu hasil yang sudah dapat dirasakan adalah berkurangnya daerah banjir seiring dengan pembenahan sistem drainase yang belakangan gencar dilakukan. “Kalau akses air bersih sudah 90 persen lebih, jadi itu sudah tidak masalah lagi. Sekarang masalahnya tinggal tiga, sampah, drainase, dan limbah. Kalau semuanya sudah tune, kerugian itu bisa direduksi. Itu juga salah satu tugas daerah,” imbuhnya. Sayangnya, masyarakat sendiri kurang mengapresiasi langkah-langkah untuk memastikan kelestarian lingkungan ini. Muhidin mengakui sulitnya mengubah kebiasaan buruk masyarakat yang sudah mendarah daging, seperti membuang sampah dan limbah ke sungai. Bahkan, sekitar 80 persen warga masih buang air besar (BAB) di sungai. Berbagai program yang ditawarkan PD PAL pun ditanggapi dingin, misalnya WC Gratis. “Masalahnya tinggal masyarakat, saat ini sepertinya mereka masih merasa tidak perlu,” keluhnya. (naz) Riyan Jumat, 28 Oktober 2011 20:23:1 Yth :DPRD Komisi IV Bidang pendidikan Banjarmasin....Tolongi am Nasib Guru-Guru Sangat Terpencil yang… fatur Jumat, 21 Oktober 2011 10:14:5 maraknya truck batubara menggunakan jln propinsi di wilayah tanah bumbu dan pelaihari tetapi aparat… agus Rabu, 28 September 2011 21:36: Seandainya saja Pemerintah daerah atupun pusat atau pun LSM bisa membantu pembebasan lahan milik TNI-AD… ayu p larasati Jumat, 23 September 2011 18:28 banjarbaru semakin sesak berantakan.. macet.. terlalu banyak u-turn nya, jaraknya deket lagi..blm lagi… www.punyaunda.com Kamis, 22 September 2011 19:22 link E-paper Radar banjar udah ulun pasang di blog urang banjar tempat download lagu banjar kalimantan… ali Selasa, 20 September 2011 16:3 tolong sampaikan ....kami kecewa sebagai panitia FASI 2011 dipelaihari Belum dapat uang jerih payah… Gatot Selasa, 20 September 2011 08:5 ANDAIKATA SUNGAI SUNGAI DI KALIMANTAN MENJADI SUNGAI YANG AMAN & NYAMAN untuk TRANSPORTASI AIR, MAKA… yasir Jumat, 16 September 2011 13:05 alhamdulillah telah di lanjut kan nya pengerjaan median jalan di km30 mudah mudahan tidak terjadi lagi… iqbal Rabu, 7 September 2011 20:42:5 please sahabat radar,,,tolong terbitkan berita tentang seputar bisnis sampingan di jawa,,,,yang unik2… mansyah Senin, 22 Agustus 2011 14:03:0 saya jd bingung dgn kades saya dibanyuirang bati2 tidak ada pertanggungjawapan ADD ATAU rapat di bpd…




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.