BANJARMASIN - 26 Februari 2009, Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, DirekturUtama WIKA Bintang Perbowo, jajaran direksi PT PLN Persero, Gubernur Kalteng Agustin Teras, Bupati Kab Tanah Laut H Adriansyah, semuanya tampak sumringah pagi itu. Mereka berkumpul di lokasi pemancangan tiang pertama Pembangunan Proyek PLTU Asam-Asam Unit 3 dan 4. Proyek senilai Rp1,2 triliun itu dikerjakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan Chengda.Semuanya tampak optimis, menatap lahan kosong yang dikelilingi pagar seng, di samping PLTU Unit 1 dan 2 yang selama ini menjadi sumber utama, energi listrik di dua provinsi, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Sebuah optimisme yang wajar, melihat dua nama besar perusahaan yang mengerjakan proyek ini. PT WIKA adalah market leader di bidang pembangkit listrik, menguasai lebih dari 30 persen proyek pembangkit yang dikeluarkan pemerintah. Bahkan sebelumnya PT WIKA juga mengerjakan pembangkit dengan kapasitas lebih besar, diantaranya yang terbesar adalah PLTU Indramayu (3x330 MW) dan PLTGU Tanjung Priok (2x350 MW). Total pembangkit yang dikerjakan PT WIKA adalah 4.806 MW. Sedangkan Chengda adalah perusahaan listrik terbesar di China yang telah berdiri sejak tahun 1950 dan mulai memasuki kiprahnya di pasar listrik internasional sejak 1960. Kini Chengda telah bekerjasama dengan lisensor dan perusahaan engineering dari berbagai Negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, Itali dan beberapa Negara Eropa serta Asia lainnya.Jadi, membangun sebuah PLTU 2 x 65 MW di Asam-Asam bukanlah sesuatu yang luar biasa. Semuanya optimis, proyek selesai dalam kurun waktu 24 bulan untuk unit 3 dan dua bulan berikutnya untuk unit 4. Jika dihitung sejak tanggal ground breaking tersebut, maka mestinya PLTU Unit 3 sudah selesai pada Februari 2011. Tapi kenyataan, sampai sekarang listrik Kalselteng masih tersandera. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam Unit 3 dan 4 yang digadang-gadang menjadi solusi permasalahan listrik Kalsel, tak kunjung selesai.Belakangan, waktu 24 bulan terlampaui. Muncul lagi janji PLN Wilayah Kalselteng akan selesai pada Juli 2011. Target itu molor lagi. Bahkan Dirut PLN saat itu Dahlan Iskan, secara khusus datang ke Kalsel, berjanji Kalsel akan merdeka listrik pada 17 Agustus 2011. Di penghujung Mei 2011, ia pun sempat mendatangi lokasi proyek PLTU dan mengumpulkan anak buahnya di sebuah ruangan di kantor PLTU Asam-Asam. Ia terlihat berbicara dengan mimik marah. Informasinya, Dahlan memang marah dengan berlarut-larutnya penyelesaian PLTU Asam-Asam, bahkan ia sendiri langsung berbicara serius dengan tenaga ahli dari China, dengan bahasa Tionghoa.Tapi ternyata, PLN kembali harus mengulur target, mulai September, Oktober, 20 Desember dan terbaru 5 Januari 2012. Gregetan dengan molornya proyek yang menjadi bagian dari janji politik Dua Rudy saat kampanye pemilukada 2010 tersebut, Gubernur Rudy Ariffin pun menunjuk Staf Ahli Gubernur Hadi Soesilo, untuk mengawal proyek ini.Lantas apa yang terjadi? Hadi Soesilo yang sudah bolak-balik ke Asam-Asam mengungkap, ada kendala teknis dan juga terkendala tenaga ahli. "Tingkat kerumitan pengerjaan proyek membuat kebutuhan tenaga ahli menjadi sangat penting. Unit 3 dan 4 menggunakan kontraktor Chengda asal China, berbeda dengan Unit 1 dan 2 yang menggunakan Mitsui dari Jepang sebagai kontraktor," ujarnya.Menurut Hadi, saat kunjungan lapangan akhir Oktober lalu, dia mendapat informasi, ada persoalan di salah satu pompa Unit 3 yang mengalami vibrasi, sehingga perlu disetel ulang. Inilah yang menyebabkan proyek diundur lagi targetnya menjadi 5 Januari 2012. Sementara itu, penjelasan teknis diperoleh Radar Banjarmasin dari Manajer Unit Pelaksana Kontruksi PT PLN Kalsel Wahiddin kepada Radar Banjarmasin, secara ekslusif kemarin (6/12)."Mudahan tidak ada lagi halangan yang cukup berarti," terangnya membuka pembicaraan.Wahiddin saat ditemui di PLTU Asam-Asam menjelaskan, ada beberapa persoalan teknis terjadi pada molornya penyelesaian pekerjaan unit 3 dan 4 ini. Diantaranya, permasalahan conveyor dan saat menjadi listrik, dilakukan proses penghubungan dengan unit 1 dan 2."Penghubungan dari unit 3 saat menjadi listrik ke unit 2 sangat sulit, tetapi nanti akan dilakukan dengan baik," terangnya.Wahidin mengakui, kesulitan ini terjadi pada unit 2 yang sudah dua tahun lebih belum melakukan pemeliharaan, langkah penghubungan nanti akan dilakukan dengan mengalahkan unit 2 diganti menjadi unit 3."Unit 2 ini kalau dibilang sering batuk-batuk," terangnya.Molornya pengerjaan terjadi juga pada tenaga ahli proyek pembangunan unit 3 dan 4 pada bidang kontrol komputer, dimana tenaga kontraktor dari China menangani proyek tersebut, kekurangan tenaga programmer untuk mengaplikasikan instrumen dari lapangan ke display komputer. Sehingga Wahidin bersama rekannya harus turun tangan melakukan pekerjaan itu."Alhamdulillah pekerjaan itu sudah selesai dan tidak ada permasalahan lagi, " terangnya.Lebih lanjut ujarnya, secara fisik, kini PLTU 3 dan 4 yang dikerjakan WIKA dan Chengda ini sudah hampir rampung. Sekarang memasuki tahap ujicoba steam blowing (asap uap). Tujuannya untuk menguji kelayakan, apakah steam (uap) bisa di masukan untuk memutar turbin atau tidak. Sebab bila terdapat pada steam blowing itu terlihat partikel menempel di besi uji coba, maka proses itu belum maksimal dilakukan.Saat di uji coba proses steam blowing itu Rabu (30/11) di unit pembangkit 3, terlihat masih ada partikel menempel di besi uji coba, jika tidak ada partikel menempel di besi uji coba, saat itulah bisa dikategorikan layak untuk steam tersebut memutar turbin dan turbin tersebut memutar generator listrik. (tas/ard/mat/bin)




Publikasi ini berisi data-data umum mengenai kependudukan yang sering ditanyakan, yang terdiri dari tabel-tabel dan ulasan singkat yang dirinci per kecamatan. Publikasi ini sudah mencakup 2 kecamatan baru hasil pemekaran, sehingga total kecamatan yang tercakup sebanyak 11 kecamatan.